Jumat, 23 Juni 2017

*ADAB BERHARI RAYA*

Pastikan telah membayar zakatul fitri Sunnah ditunaikan 1 atau 2 hari sebelum hari raya

1⃣. Mandi Sunnah sebagaimana mandi junub. *HR.Malik (426)*

2⃣. Berhias dan mengenakan  baju yg paling bagus. ingat baju yg paling bagus yaa ...bukan baju baru. *HR Bukhari (886) Muslim (2068)*

3⃣. Makan beberapa butir kurma (bilangan ganjil) *HR Bukhari  (953)*
Jika kita ingin sesuai dengan teks Hadist yaa makan kurma sebelum berangkat sholat iedul fitri... jika tidak ada maka makan makanan yg ada...ketupat, nasi,kue yg penting berbuka, tidak dalam kondisi berpuasa

4⃣. Bertakbir ketika berangkat ke tempat sholat ied *(QS. AL-BAQARAH 185)*
Sunnahnya tempat ied di Lapangan terbuka jika hujan baru di Masjid / Gedung tertutup.

Batasan bertakbir sejak keluar rumah hingga sholat iedul fitri ditegakkan. *HR.Ibnu Abu Syaibah (l/487)*

Sunnah mengeraskan suara takbir dan Tahlil *(HR.Al-Baihaqi  (3/279)*
takbir dilakukan masing masing (tidak dikomando)

5⃣. Berjalan dengan jalan yg berbeda ketika berangkat dan ketika pulang. *HR. BUKHARI  (986)*

Sunnah dengan berjalan kaki. *HR. At-Tirmidzi (l/164); Ibnu Majah (1071)*

6⃣. Disunnahkan berangkat lebih awal bada shubuh dan ambil posisi terdepan sebelah kanan lalu bertakbir hingga.. imam berdiri untuk memimpin  sholat. *Kitab Syarh Sunnah, Al-Baghawi  (4/302)*

7⃣Boleh mengucapkan selamat Berhari raya seperti ucapan Taqabbalallohu minna waminkum
*Syaikh Islam dalam Majmu Fatawa (24/253) berdasarkan  riwayat sebagian sahabat bahwa mereka melakukannya  (Al-Hafidz dalam kitab Fath Al Bari (2/517)*

InsyaaAllah bernilai pahala & bermanfaat untuk umat

sumber : fb hidup mulia dengan sunnah

KELUARGA NABI DI HARI FITRI*

*

Pada saat malam Takbiran, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan kurma. Bersama istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, Ali menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma. Terihat, Sayyidina Ali memanggul gandum, sementara istrinya Fathimah menuntun Hasan dan Husein. Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.

Esok harinya tiba salat ‘Idul Fitri. Mereka sekeluarga khusyuk mengikuti salat jama’ah dan mendengarkan khutbah. Selepas khutbah ‘Id selesai, keluarga Rasulullah Saw. itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau, Ibnu Rafi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga putri Rasulullah Saw. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.

Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, dalam ‘Idul Fitri makanannya adalah gandum tanpa mentega, gandum basi yang baunya tercium oleh sahabat Nabi itu. Seketika Ibnu Rafi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i berlinang butiran bening, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. Tiba di depan Rasulullah, “Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rafi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rasulullah Saw. pun bergegas menuju rumah Sayyidatuna Fathimah az-Zahra r.a. Tiba di teras rumah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya. Mata Rasulullah pun berlinang. Butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah Saw. nan suci.

Air mata Rasulullah berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fitri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rasulullah Saw. penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tak sedap, dengan makanan yang sudah basi.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut.

Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. “Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rafi’i, keluarga Rasulullah Saw. pada hari ‘Idul Fitri senantiasa menyantap makanan yang basi berbau apek. Ibnu Rafi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah Saw. agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rasulullah Saw. wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritkan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232).

Ya Rasulullah, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga. Siapa gerangan yang tak malu? Siapa orangnya yang tak kelu? Kami di hari nan fitri, makanan kami lezat-lezat, makanan kami enak-enak. Harus kami apakan diri ini, ya Rasul? Kami malu.

Ya Rasulllah, teteskan kemuliaan jiwa baginda kepada kami, teteskan walau hanya setitik, agar jiwa kami semua tiada tandus dari kasih. Ya Rasulallah, berikan kedermawanan jiwa baginda dan keluarga kepada kami dan keluarga kami. Lapangkan dada kami untuk tidak terpukau oleh kemilau dunia sementara kaum fakir-miskin menderita. Luaskan hati kami untuk bisa mencintai kaum papa sebagaimana baginda telah memberikan teladan yang begitu sangat mulia. Allâhumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidinâ Muhammad wa ‘ala Ali Sayyidina Muhammad. []

Rabu, 21 Juni 2017

CATATAN HARI KE DUAPULUH ENAM RAMADHAN* : MERANGKAK PUN LEBIH BAIK

🌳🌳🌳🌳🌳🌳

*

@ Cahyadi Takariawan

Ramadhan sudah hampir berakhir. Sudah berapa banyak juz kita baca? Sudah berapa kali khatam selama Ramadhan?

Sudah berapa banyak dzikir, istighfar, taubat, sedekah, infak dan amal-amal salih lainnya? Mari kita hitung sendiri.

Sampai dengan hari ini, ada yang sudah lebih dari sepuluh kali khatam membaca Al Qur'an. Mereka ini berlari kencang sekali untuk meraih ridha Ilahi.

Ada yang baru sekali khatam. Mereka ini berjalan kaki, pelan tapi pasti.

Ada juga yang belum sampai khatam. Yang ini tengah merangkak. Mungkin karena kesulitan membaca, terbata-bata, sehingga butuh waktu lama. Mungkin saking sibuknya dengan berbagai agenda.

Bahkan ada yang belum memulai membaca Al Qur'an sama sekali padahal Ramadhan sudah hampir pergi. Mereka ini termangu ragu, atau bahkan tengah tertipu.

Bagi anda yang sudah berkali-kali khatam, teruskan membaca Al Qur'an agar tembus hingga penghayatan terdalam.

Bagi yang baru sekali khatam, itu lebih baik daripada belum pernah khatam satu kalipun. Bagi yang hingga hari ini belum khatam, itu masih lebih baik daripada belum memulai membaca sama sekali.

Bagi anda yang hingga hari ini belum sempat membaca Al Qur'an, segera buka mushaf anda. Merangkak untuk menggapai ridhaNya, lebih baik daripada diam terpaku dan termangu.

Allah lebih melihat kesungguhan usaha kita. Bukan hasil akhirnya. Sebagaimana firmanNya:

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu". QS. At Taubah : 105.

Maka jangan pernah diam tanpa melakukan usaha. Ampunan dan kasihNya selalu menunggu kita. RahmatNya terhampar tidak terhingga.

Di penghujung Ramadhan, masih ada waktu yang tersisa, untuk terus berlari, atau berjalan bagi yang tak sanggup berlari, bahkan merangkak bagi yang tak sanggup berjalan.

Jangan sia-siakan kesempatan yang telah Ia sediakan. Tahun depan, kita tidak pernah tahu apakah Ramadhan masih kita temukan.

Yogyakarta 26 Ramadhan 1438 H

Senin, 19 Juni 2017

Mengapa Rumah Sakit di Makkah selalu sepi..??

Di Makkkah rumah sakit pada sepi,, beda dengan di Indonesia..
Memang beda dan tidak sama.. Yang membedakan adalah Aqidah dan Syariatnya,,,

Inilah rahasia mengapa di Makkah rumah sakit sangat sepi,, jarang sekali pasien yang datang...

Ada seorang dokter dari klinik di Tanah suci ( Makkah Al-Mukarromah ). Selama 6 bulan berprakter, tidak ada seorang pasien pun yang datang untuk berobat. Hingga beliau meras heran, Apakah orang-orang disini tidak pernah sakit??

Akhirnya beliau mendapatkan jawabannya, dari salah seorang Muslim disana :

Bila kami sakit,,,
* Ikhtiar pertama
Yang kami lakukan adalah Sholat dua rokaat dan memohon kesehatan kepada Allah.
Insya Allah sembuh dengan izin dan kasih sayang-NYA.

Kalau belum sembuh,,,
* Ikhtiar kedua
Yaitu baca Al-Fatihah / Surat-surat lain, tiupkan pada air minum dengan amalan tambahan :
- Jika badan panas,, maka kami banyakin baca Sholawat ( karena Sholawat sebagai penyejuk )
- Jika badan dingin,, maka kami banyakin baca Ayat Kursi.
- Jika sakit yang terlihat,, maka kami bacakan Surat Al-Fatihah sambil mengusap-usap dibagian yang sakit.
- Jika sakit tak terlihat,,maka kami banyakin bacaan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas ( Sebagai penolak sihir )
Dan Alhamdulillah kami akan sehat . Inilah Ruqyah untuk diri sendiri.

Tapi kalau belum sehat juga, kami lakukan ikhtiar ketiga.
* Ikhtiar ketiga
Yaitu bersedekah,, dengan niat menapatkan pahala kebaikan dan dijadikan jalan penyembuh sakit kami.
Insya Allah akan sembuh.

Dan kalau tidak sembuh juga, akan kami tempuh ikhtiar yang keempat.
* Ikhtiar ke-empat
Yaitu banyak-banyak Istighfar untuk bertaubat. Sebab Nabi SAW beritahu kami, bahwa sakit adalah salah satu sebab diampuninya dosa-dosa.

Kalau belum sembuh juga, baru kami lakukan ikhtiar ke-lima.
* Ikhtiar ke-lima
YAitu minum Madu dan Habbatussauda.
* ikhtiar ke-enam
Yaitu dengan mengambil makanan herbal seperti bawang putih, buah tin, zaitun.
Dan Alhamdulillah,, Laa Hawlaa Wa laa quwwata illa billah..
Jika belum sembuh sembuh, baru kami.
* Ikhtiar ke-tujuh
yaitu pergi ke Dokter yang sholeh.
Insya Allah akan diberi kesembuhan dari Allah..

Semoga bermanfaat,, silahkan di share

Sabtu, 17 Juni 2017

Berikut tips menjelang 10 malam terakhir Ramadhan y

Berikut tips menjelang 10 malam terakhir Ramadhan yang Arrahmah kutip dari Syaikh Tawfique Chowdhury, CEO Merci Mission, dan diterjemahkan Ustadz Hilman Rosyad Lc. Bismillah.

1⃣ Mulailah dengan niat yang bersih dan tulus. Jika sampai hari ini ibadah terasa belum maksimal, bersiaplah untuk memaksimalkannya. Jika kau benar2 ingin memperbaikinya, masih ada waktu!

2⃣ Hari ini, bacalah tafsir surat Al-Qadr, dan pahami apa yg sesungguhnya terjadi pada lailatul qadr. Kau akan merasakan keagungan dan kekuatannya insyaa Allaah.

3⃣ Jangan menunggu hingga malam ke 27 untuk mengerahkan segalanya. Seluruh malam dari 10 malam terakhir seharusnya jadi targetmu. Bangunlah setiap malamnya. Jangan sampai laylatul qadr terlewati begitu saja.

4⃣ Jangan ikut-ikutan dengan perayaan-perayaan atau kegiatan-kegiatan yang diada-adakan (bid’ah) oleh kelompok-kelompok tertentu. Ikutilah sunnah Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam. Tuntunan beliau adalah: *“Barangsiapa yang berjaga (tidak tidur) dan berdoa pada malam lailatul qadr dengan iman dan pengharapan akan ganjarannya, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”*

5⃣ Hafalkan doa malam lailatul qadr yang diajarkan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam ini : *Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’ fu’anni*
(Yaa Allah, Engkau maha pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku).

6⃣ Siapkan daftar pendek doa-doa untuk dipanjatkan. Ingat, ini adalah waktu yang sangat istimewa bagi seorang hamba. Malam Qadar! Malam ditetapkannya takdir! Pilihlah doa doa terbaik untuk agamamu, dunia akhiratmu dan keluargamu. Jangan lupakan saudara-saudaramu Muslimin yang tengah kesusahan di berbagai belahan dunia.

7⃣ Sempatkan tidur siang sejenak jika memungkinkan. Jagalah perutmu agar tidak terlalu kenyang dan tidurlah segera setelah isha dan tarawih sekadar untuk menyegarkan diri. Lalu bangunlah untuk beribadah.

8⃣ Jangan lupakan keluargamu! Rasulullah membangunkan para istrinya pada malam-malam ini. Anak-anak pun bisa diajak beribadah untuk beberapa saat, walau mungkin tidak selama orang dewasa. Siapkan, semangati dan motivasi mereka!

9⃣ Cara kita berpakaian dan mempersiapkan diri berpengaruh secara psikologis. Pakailah pakaian yang bagus dan wewangian (khusus di rumah untuk wanita) ketika beribadah.

🔟 Pilihlah spot khusus yang kondusif untuk beribadah, apakah itu di masjid atau di rumah. Letakkan sajadah, mushaf dan air minum sehingga kita tidak perlu beranjak dari sana jika perlu minum.

1⃣1⃣ Ini BUKAN malam untuk pasang status (misalnya : “Alhamdulillaah, nikmatnya bermunajat kepada-NYA malam ini” dsb) di FB atau media sosial apapun. Biarlah itu jadi rahasia indah antara hamba dengan Rabb-nya. Maka, matikan dulu HP, tablet dan komputer. Putuskan dulu hubungan dengan dunia, dan nikmati jalinan hubungan dengan al-‘Afuww!

1⃣2⃣ Jika mengantuk, maka variasikan bentuk ibadah antara shalat, bermunajat dan membaca Qur’an. Lakukan bergantian.

1⃣3⃣ Sabar adalah kuncinya. 10 malam terakhir mungkin akan sangat melelahkan. Anda mungkin masih harus bekerja, sekolah atau altifitas lainnya. Ini adalah saat untuk bersabar dengan kelelahan itu. Ingatlah Allah telah menganugrahimu dengan kesempatan berharga (akan luasnya ampunan)yang mungkin saja tidak datang lagi. Bukankah kita akan berlari walau apapun yang terjadi jika kita tahu pasti bahwa ini adalah ramadhan terakhir kita dan surga hanya selangkah lagi?

1⃣4⃣ Ini yang paling penting : husnudzhon lah kepada Allah. Ketika bermunajat, ingatlah kau sedang meminta pada Raja Yang Maha Pemurah. Jika kau berharap yang terbaik, Dia akan memberimu yang terbaik. Jangan ragu-ragu, yakinlah dan tumpahkan seluruh isi hatimu di hadapan-NYA. Jangan biarkan keragu-raguan dan prasangka buruk menjauhkanmu dari Arrahman Arrahiim.

Allahumma ballighna lailatal qadr. Aammiin.

(adibahasan/arrahmah.com)

KETIKA RUMAH SEPI DARI TAMU


👉Diriwayatkan ada seorang laki laki yang senang bila rumahnya kedatangan tamu. Namun isterinya kerap menunjukkan sikap sebaliknya.
Setiap kali sang suami kedatangan tamu ke rumahnya, isterinya menunjukkan sikap yang kurang baik. Sehingga si suami mengeluhkan keadaan tersebut kepada Rasulullah saw.
👉Mendengar itu Rasulullah saw bersabda,
"Katakan kepada isterimu, hari ini Rasulullah saw dan beberapa orang sahabatnya akan bertamu ke rumahmu. Katakan kepada isterimu supaya ia memperhatikan tamu pada saat keluar rumahnya nanti."
👉Laki-laki itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw.
Pada saat para tamu masuk (datang), ia dan istrinya melihat mereka membawa daging & buah buahan yang banyak, dan pada saat mereka pulang membawa keluar Ular dan Kalajengking yang begitu banyak.
💐Rasulullah saw bersabda,
"Kedatangan tamu ke rumah mendatangkan banyak karunia ke dalam rumah yang dikunjungi, dan pada saat pergi mereka membawa keluar berbagai Petaka dirumah tersebut."
✍ Setelah menyaksikan hal itu, istrinya pun berubah menjadi orang yang suka menerima tamu.
Rasulullah saw bersabda,
"Sesungguhnya seorang tamu yang datang mengunjungi seseorang, membawa rezeki untuk orang tersebut dari langit. Apabila ia memakan sesuatu, Allah swt akan mengampuni dosa penghuni rumah yang dikunjungi."
👉Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw bersabda,
"Setiap rumah yang tidak dikunjungi tamu, maka malaikatpun tidak akan mengunjungi rumah tersebut."
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
💐Beruntunglah rumah rumah yang sering kedatangan tamu, maka janganlah mengeluh jika ada orang yang ingin bertamu ke rumahmu.

Selasa, 13 Juni 2017

*"Besok kita jadi bukber ya, di tempat yg kemarin udah aku reserved"*

Aku menutup aplikasi line setelah memastikan teman segrup mengiyakan. Beralih ke aplikasi kalender: besok bukber jurusan, lusa bukber unit, weekend bukber sma. Melewati tengah ramadhan, ajakan bukber masih saja padat. Sebelum pada pulang kampung katanya.

---

Namun malang, ternyata aku yang lebih dulu 'pulang'.

Bukber hari itu ditiadakan.
Teman-temanku berombong datang ke rumahku. Teman dekatku menangis, yang lain matanya sembab.

Lalu apa?

Semua grup line yang aku ikuti berisikan ribuan ucapan belangsukawa terindah.
Post berisikan wajahku dgn caption kenangan terbaik ramai memenuhi instagram.
Oh belum lagi ratusan notifikasi ucapan kangen dan tidak percaya aku telah tiada yang membludak di kolom komentar instagramku.
Dan papan bunga dengan namaku yang berdiri di depan gerbang kampus tercinta.

Lihat, begitu banyak orang yang mencintaiku. Tidak sia-sia aku sering menghabiskan waktu bonding dengan mereka, bukan?

---

I wish I could say that.

Namun kehidupan akhirat nyatanya tidak seindah itu.

Ucapan belasungkawa, post instagram, serta komentar kangen mereka di media tidak cukup kuat untuk menembus ke bawah tanah ini. Aku bahkan tidak tahu menahu itu ada.

Ratusan teman dan rekan di kampus katanya.
Aku di gelapnya kubur menunggu cahaya doa dari mereka-mereka yang lama kuhabiskan waktu dengannya.
Namun berapalah titik cahaya yang datang langsung dari doa di atas sajadah, bukan di atas keyboard?
Mungkin hitungan jari. Atau kurang.

Kemana kalian?
Bukankah kita sudah terlampau sering melakukan bonding bersama?
Bercanda dan terbahak bareng, nonton bareng, makan bareng, jalan bareng, kegiatan ini kegiatan itu, dan kau juga sudah menyebutku sebagai keluarga, ingat?

Atau memang selalu dan hanya akan sebatas ini sejak dulu.
Yang hidup di dunia akan tetap berkutat dengan dunianya.
Sedikit demi sedikit kenangan tentangku akan lenyap dihanyutkan kesibukan dunia.
Sebulan, setahun, lalu habis.

Dan tinggallah aku yang kan pergi mempertanggungjawabkan diri di akhirat.
Sendiri.

Kalaulah dahulu diperlihatkan seintip kehidupan akhirat yang nyata,

Pastilah aku akan memilih bonding dengan Sang Pencipta dibandingkan dengan makhluk-Nya.
Akan menggantikan belasan bukber yang sering tercampur bumbu ghibah itu dengan dzikir petang atau berkumpul dengan keluarga.
Akan menggantikan tidur sehabis subuh itu dengan dzikir pagi.
Akan menggantikan waktu marathon film itu dengan marathon hafalan Al-Quran.
Dan tentu tidak akan menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini dengan amalan sekedarnya.

Bahkan tanpa diperlihatkan pun sebenarnya aku tahu, namun sering berpura lupa dan acuh mengabaikannya.

Hingga waktuku habis dan datanglah hari penyesalan ini.

---

Apalah artinya banyak tertawa bersama makhluk, jika menjadikan kita lupa untuk menangis kepada-Nya

*“Andai kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.*  *(HR Bukhari dan Muslim)*

#selfreminder
#ceritapendek

*EPILOG:*
Kudengar bukber di hari 'kepulanganku' itu diundur menjadi minggu depan. Tak ada yang berbeda, hanya berkurang satu kursi dari meja. Ternyata tanpaku pun mereka tetap bisa ramai dan banyak tertawa.